POLEWALI MANDAR — Koordinator Wilayah (Korwil) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Muhammad Yusuf, melakukan monitoring sejumlah dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Polman, Sulawesi Barat.
Monitoring dapur MBG tersebut berlangsung mulai Senin (14/9/2026) hingga akhir September 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan setiap dapur memenuhi standar kelayakan, kebersihan, keamanan pangan, serta kesiapan sarana dan prasarana pendukung.
Muhammad Yusuf mengatakan, hingga Jumat (18/9/2026), pihaknya telah melakukan peninjauan di empat kecamatan, yakni Binuang, Polewali, Anreapi, dan Matakali.
“Saat ini sudah ada empat kecamatan yang kami kunjungi, mulai dari Kecamatan Binuang, Polewali, Anreapi, hingga Matakali. Kami menargetkan peninjauan dapur di satu kecamatan setiap harinya,” ujar Yusuf.
Dalam monitoring tersebut, standar higienitas dapur menjadi salah satu perhatian utama. Dari hasil pemeriksaan awal, sejumlah dapur SPPG masih membutuhkan peningkatan fasilitas, khususnya kelengkapan peralatan memasak berbahan stainless steel yang sesuai dengan kebutuhan pengolahan makanan.
Selain kebersihan peralatan, pemeriksaan juga mencakup kualitas bahan baku, proses pengolahan makanan, sanitasi dapur, suhu penyimpanan, ketepatan porsi dan takaran gizi hingga pengujian sampel makanan.
Korwil SPPG Polman juga memastikan seluruh operasional dapur berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Petunjuk Teknis (Juknis) program MBG.
Aspek sarana dan prasarana turut diperiksa, mulai dari peralatan memasak, freezer, kendaraan distribusi, alat pemadam api ringan (APAR), fasilitas sanitasi hingga Alat Pelindung Diri (APD) bagi para relawan.
“Monitoring ini bukan hanya melihat kondisi dapur, tetapi juga memastikan seluruh proses dari bahan baku sampai makanan diterima penerima manfaat berjalan sesuai standar,” jelasnya.
Selain itu, SPPG melakukan validasi data penerima manfaat untuk memastikan jumlah makanan yang disiapkan sesuai dengan data yang telah terverifikasi, termasuk siswa, ibu hamil, dan balita.
Pengelolaan sumber daya manusia serta keterlibatan pelaku ekonomi lokal juga menjadi bagian dari evaluasi. SPPG diharapkan dapat melibatkan petani, peternak dan pelaku UMKM di sekitar wilayah operasional.
Yusuf menambahkan, monitoring juga dilakukan sebagai langkah mitigasi terhadap berbagai risiko, termasuk persoalan kebersihan, makanan terbuang (food waste), potensi kecurangan hingga kemungkinan penyelewengan dalam pengelolaan program.
Melalui monitoring yang dilakukan secara berkala, Korwil SPPG Polman berharap seluruh dapur MBG dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan menjalankan program secara lebih profesional.
“Kami berkomitmen membawa standardisasi operasional SPPG Polman menjadi percontohan terbaik di Provinsi Sulawesi Barat,” pungkas Yusuf.














