POLEWALI MANDAR – Pemadaman listrik bergilir masih terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sulselbartra). PLN mengungkap kondisi sistem kelistrikan yang masih dalam tahap pemulihan menjadi salah satu penyebab pemadaman belum sepenuhnya berakhir.
Manager PLN ULP Polewali, Ayu Ardhini, mengatakan pembangkit yang sebelumnya menjalani pemeliharaan dan perbaikan di Jeneponto memang sudah kembali beroperasi. Namun, pengoperasian pembangkit dengan kapasitas sekitar 125 megawatt (MW) dilakukan secara bertahap dan belum dapat langsung memasok daya secara penuh ke sistem.
Hal tersebut disampaikan Ayu Ardhini saat ditemui di Polewali, Selasa (8/9/2026).
“Pembangkit itu tidak seperti kulkas yang dicolok langsung menyala semua. Ini masih masa transisi dan pemulihan. Kita menyalakannya bertahap karena tidak mungkin langsung 125 megawatt masuk ke sistem,” ujar Ayu.
Kondisi itu membuat PLN masih menerapkan pengaturan beban atau pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah. Meski masih terjadi, PLN menyebut wilayah dan durasi pemadaman telah berkurang dibandingkan kondisi sebelumnya.
Sistem Sulbagsel Masih Bergantung pada Kondisi Pembangkit
Ayu menjelaskan, sistem kelistrikan Sulbagsel merupakan satu sistem yang menghubungkan sejumlah pembangkit dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat hingga Sulawesi Tenggara.
Pembangkit seperti PLTA Poso, PLTA Bakaru, pembangkit Jeneponto, serta sejumlah pembangkit lainnya memasok listrik ke dalam satu sistem sebelum disalurkan ke masyarakat.
Karena itu, kondisi salah satu pembangkit dapat berpengaruh terhadap keseimbangan pasokan listrik dalam sistem secara keseluruhan.
Menurut Ayu, kondisi debit air pada PLTA saat ini masih relatif aman. Namun, cadangan daya mulai berkurang seiring menurunnya debit air akibat kondisi kemarau di sejumlah wilayah.
“Cadangan kami sebenarnya masih cukup, cuma cadangannya mulai berkurang karena debit air juga berkurang,” katanya.
Selain pemulihan pembangkit di Jeneponto, kondisi PLTA di wilayah Poso juga menjadi perhatian PLN. Pembangkit di Poso memiliki kontribusi besar terhadap sistem kelistrikan Sulbagsel dibandingkan PLTA Bakaru.
Ayu mengatakan hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Poso sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kembali debit air dan membantu menambah cadangan daya dalam sistem.
“Yang diharapkan hujannya di Poso. Di sana yang cukup deras supaya debit air meningkat,” jelasnya.
PLN juga telah mengoperasikan sejumlah pembangkit sebagai upaya menjaga pasokan listrik, termasuk pembangkit di Poso yang menghasilkan sekitar 25 MW.
Beberapa PLTD juga sempat dioperasikan kembali sebagai langkah darurat. Namun, pengoperasiannya belum maksimal karena adanya kendala ketersediaan BBM.
Terkait kapan pemadaman listrik bergilir akan sepenuhnya berakhir, PLN belum dapat memberikan estimasi waktu.
Menurut Ayu, kondisi sistem sangat bergantung pada proses pemulihan pembangkit dan faktor cuaca yang memengaruhi debit air PLTA.
PLN juga menghindari pemberian estimasi waktu yang terlalu pasti karena kondisi cuaca sulit diprediksi.
“Takut menyampaikan estimasi karena cuaca. Kita tidak tahu dan takut meleset dari perkiraan. Kita doakan saja semoga semuanya bisa segera selesai,” tuturnya.
PLN memastikan terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan sistem kelistrikan Sulbagsel, termasuk mengoptimalkan pembangkit yang telah selesai menjalani pemeliharaan dan melakukan pengaturan beban secara bertahap.
Dengan pemulihan pembangkit dan meningkatnya debit air PLTA, PLN berharap kondisi sistem kelistrikan dapat segera kembali normal sehingga pemadaman listrik bergilir di Sulselbartra dapat dihentikan.














