Belasan Siswa SD di Polman Mengalami Gejala Mual dan Pusing Usai Menyantap MBG

Belasan siswa sekolah dasar dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan pusing kepala setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Binuang, Jumat (14/2/2026).

Para siswa yang terdampak langsung mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan setempat.

Berdasarkan keterangan pihak sekolah, sekitar 15 hingga 16 siswa mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari roti tawar, telur rebus, anggur, bubur kacang hijau, serta minuman pendamping.

Guru menyebutkan, Mayoritas siswa yang mengalami gejala merupakan siswa kelas 6, sementara satu siswa lainnya berasal dari kelas 4.

Salah satu guru menjelaskan, gejala tidak muncul secara bersamaan karena waktu makan siswa berbeda-beda. Ada siswa yang lebih dulu mengonsumsi makanan, sementara lainnya hanya memakan sebagian menu seperti telur atau buah.

“Awalnya beberapa siswa mengeluh pusing dan mual setelah makan. Ada juga yang muntah berulang, tetapi sekarang sebagian sudah membaik dan diperbolehkan pulang,” ujar salah satu guru di sekolah

Kepala Puskesmas Binuang, Abdul Azis, mengatakan pihaknya melakukan penyelidikan awal di lokasi kejadian dan menemukan beberapa bahan makanan yang dicurigai menjadi pemicu keluhan siswa, di antaranya minuman yang diduga susu serta bubur kacang hijau dalam kemasan terbuka.

“Hasil penyelidikan di lokasi menemukan beberapa bahan makanan yang dicurigai, seperti minuman susu dan bubur kacang hijau dalam kemasan terbuka,” kata Abdul Azis.

Selain itu, petugas juga menemukan aroma tidak biasa dari makanan tersebut. Dugaan tersebut diperkuat setelah ada guru yang turut mencicipi makanan dan mengaku mengalami pusing kepala.

Menurut Abdul Azis, gejala yang dialami siswa meliputi mual, muntah, dan pusing kepala. Sebagian siswa sempat menjalani observasi di pos kesehatan sebelum akhirnya kondisi mereka berangsur membaik.

Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari pihak terkait. Pihak sekolah berharap adanya evaluasi terhadap proses pengolahan, pengemasan, dan distribusi makanan MBG agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *